01 Desember 2009

2 0 1 2

“Anda tidak dapat percaya kepada mata Anda, jika imajinasi Anda keluar dari focus”.(Mark Twain)

MASYARAKAT dibius oleh kehadiran Film 2012 film imajinasi besutan sutradara Hollywood kelahiran Jerman, Rolland Emerich. Konon film ini menelan biaya produksi sebesar US $260 juta, dibuat selama 6 bulan di Vancouver-Kanada. Dalam 3 hari launchingnya, mampu meraup untung sebesar US$ 225 juta. Film yang dibintangi oleh actor John Cusack ini menjadi buah bibir bagi para pencinta film action. Walaupun film-film bergenre serupa pernah dibuat seperti The Day After Tomorrow (2004) dan Knowing (2009), namun masih kalah hebat.
Dari penelusuran literature penulis, isu tentang “Kiamat 2012” sangat terkait dengan ramalan suku Maya sebagaimana digambarkan dalam salah satu penanggalan kunonya yang menyatakan pada 21 Desember 2012 akan terjadi pergantian abad yang ditandai dengan “pembersihan bumi”. Dalam peristiwa ini, umat manusia akan memulai satu abad yang sama sekali baru. Ramalan suku Maya memang sangat diperhatikan banyak kalangan, dari akademisi hingga kalangan supranatural, disebabkan bangsa ini memang terkenal dengan keakuratan sistem penanggalannya.
Lawrence E. Josep, CEO Aerospace Consulting Corporation yang berbasis di New Mexico, di dalam bukunya yang terkenal “Apocalypse 2012” (2007) dengan penuh kekaguman menulis, “Tanpa bantuan teleskop atau peralatan lain, astronom Maya memperhitungkan lamanya satu bulan lunar adalah 29,53020 hari—hanya berbeda 34 detik dari apa yang sekarang kita ketahui sebagai jangka aktualnya: 29,53059 hari. Secara keseluruhan, banyak orang percaya kalender Maya berusia duaribu tahun itu lebih akurat dibanding kalender Gregorian berusia limaratus tahun yang kita gunakan sehari-hari.”
Benarkah Suku Maya menyatakan 21 Desember 2012 sebagai Hari Kiamat? Ternyata tidak demikian. Masih menurut Lawrence E. Joseph, yang juga dikuatkan oleh peneliti-peneliti sistem penanggalan Maya dunia lainnya seperti Jose Arguelles, Ph.D; Robert K. Stiller; dan lain-lain, mereka menyatakan jika di paruh akhir tahun 2012 yang akan terjadi bukanlah kiamat dalam artian musnahnya seluruh umat manusia dan kehidupan di bumi. Namun lebih merupakan satu perpindahan zaman yang entah benar atau tidak, akan diwarnai oleh bencana alam yang hebat.
Salah satu ahli dalam hal ini, Sami Solanki dari Max Plank Institute for Solar System Research yang bermarkas di Katlenburg-Lindau, Jerman, menyatakan jika perilaku matahari sekarang ini sangat enerjik. Matahari jauh lebih aktif saat ini dibanding kapan pun selama 11.000 tahun terakhir atau akhir dari zaman es terakhir. Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Tahu.(***)

Tipe-X

“Apa gunanya Anda berlari sangat kencang, jika Anda sebenarnya berada di jalan yang salah…”.(Anton LW)

ADA ungkapan, manusia tidak akan mengecat ulang kesalahannya. Karenanya saya berkeyakinan, tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kesalahan adalah manusiawi. Bahkan, orang-orang yang mengerti hukum seperti Pak Polisi, Pak Jaksa, Pak Hakim pun pernah berbuat salah. Oknum aparat penegak hukum yang hobi jual beli kasus, menjadi makelar kasus, juga salah.
Saya ingin bercerita tentang sebuah benda bernama “Tipe-X”. Benda ini sangat familiar dan tak asing dalam kehidupan sehari-hari. Fungsinya adalah untuk mengkoreksi kesalahan-kesalahan ketik/tulis. Kelahiran Tipe-X, tak bisa terlepas dari kisah seorang wanita janda Amerika Serikat beranak satu bernama Betee Nesmith yang pada tahun 1951 bekerja sebagai sekretaris di Bank Dallas. Gajinya saat itu adalah US$ 300 per bulan. Angka yang tidak kecil pada saat itu.
Persoalan terbesar yang dihadapinya sebagai seorang sekretaris adalah terlalu seringnya dia melakukan kesalahan ketik. Hingga akhirnya pada suatu hari dia membuat suatu cairan khusus yang berfungsi sebagai pengkoreksi kesalahan ketik yang kemudian dikenal dengan nama Tipe-X. Ide itu muncul setelah belajar dari pengalamannya sebagai seorang pelukis, pekerjaan yang pernah dia tekuni. Bahwa seorang pelukis tidak pernah meghapus kesalahannya, tapi cukup mengecat kembali kesalahan itu.
Dalam waktu singkat, Tipe-X buatannya menjadi terkenal di seluruh tempat kerjanya. Hingga seluruh rekan kerjanya pun menggunakan cairan khusus berwarna putih ini. Dia pernah menawarkan produknya itu ke sebuah perusahaan besar, IBM, namun ditolak mentah-mentah. Tapi pesanan terus berdatangan dari seluruh penjuru kota dan negeri. Dengan dibantu oleh seorang mahasiswi, dia menyulap dapurnya menjadi pabrik mini membuat Tipe-X. Dia mulai mengedarkan botol-botol mungil itu, hingga akhirnya seluruh dunia pun menggunakan Tipe-X untuk mengoreksi kesalahan ketik/tulis.(***)

18 November 2009

Lampu Merah

“Kita tidak bisa merasakan sesuatu, jika kita memang tidak merasakannya. Tapi kita dapat melakukan sesuatu untuk diri sendiri, meskipun hanya menuruti perasaan”.(Pearl S. Buck)

TIDAK selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Seorang teman bercerita kepada saya tentang sebuah peristiwa luar biasa di sebuah lampu merah. Begini ceritanya…
Di seberang jalan seorang Polisi meniup pluit panjang dan melambaikan tangan meminta seseorang bernama Jono untuk berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat polisi itu, yang ternyata adalah Bimo, teman SMA-nya dulu. Jono merasa lega. Saat disapa, Bimo hanya menjawab sepatah dua patah kata dan tetap saja mengeluarkan surat tilang (bukti pelanggaran) sambil meminta SIM Jono. Berbagai alasan Jono hingga melakukan pelanggaran itu, tak digubris Bimo. Dengan ketus Jono menyerahkan SIM-nya. Bimo menulis sesuatu di buku tilangnya, dan tanpa bicara menyelipkan surat tilang itu di celah kaca mobil Jono. Jono memandangi wajah Bimo dengan penuh kecewa. Jono mengambil surat tilang itu. Tapi dia terperanjat, karena ternyata SIM-nya tidak ditahan dan dikembalikan Bimo bersama sebuah nota kecil. Bimo ternyata tidak menilangnya. Buru-buru Jono membaca tulisan dalam nota itu. Bunyinya;
"Jon, tahukah kamu? Aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak semata wayang kami sudah tiada. Kini kami hanya bisa terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan kembali mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Sudah ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Tapi sangat sulit. Jon, doakan kami agar permohonan kami terkabul ya. Berhati-hatilah di jalan. Salam, Bimo”.
Setelah membaca tulisan itu, Jono terhenyak. Ia bergegas ingin menemui Bimo, tapi dia sudah tak ada di pos jaga entah ke mana. Dalam hati, dia hany abisa berharap Bimo memaafkannya. Sejak saat itu, Jono tak pernah ngebut dan menerobos lampu merah.(***)

11 November 2009

Rahasia Si Untung

SEMUA pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial. Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial. Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:
1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.
2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.
3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.
4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.
Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.(Kiriman Dari Yuliana Exlesia)

05 November 2009

Buaya vs Cicak=Tikus Tertawa

“Binatang tak dapat menggunakan lidahnya untuk berbicara. Tapi tak berarti binatang tak memiliki jiwa”.(Frederich Bligh Bond)

ADA-ada saja orang media menggambarkan perseteruan antara Polri dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang diibaratkan seperti “pertempuran” antara Buaya versus Cicak. Tapi apa pun istilah untuk itu, sehebat apapun implikasi yang ditimbulkannya, saya hanyalah orang kecil yang tak berani untuk ikut campur. Bukan kapasitas saya.
Lebih baik, saya berbicara tentang Buaya dalam arti sesungguhnya. Buaya (bukan buaya darat), adalah salah satu binatang peninggalan purbakala yang masih tersisa. Tubuhnya kasar dan menyeramkan. Apa saja disantapnya. Karena konon Buaya tidak memiliki lidah, sehingga tidak bisa merasakan nikmatnya mangsa yang dimakannya. Mulai dari binatang besar hingga binatang kecil, termasuk bangkai pun disikatnya. Menurut cerita-cerita dongeng masa kecil tentang binatang (Fabel), tidak pernah didongengkan tentang Buaya vs Cicak. Tapi kalau Buaya vs Kancil si binatang cerdik, sudah sering didengar. Tetapi dongeng tentang Buaya vs Cicak, baru di penghujung tahun 2009 ini mendengarnya di negara ini, Indonesia.
Saya memang tidak sempat wawancara langsung dengan para Buaya yang ganas, seram bin menakutkan. Namun seandainya mereka diberi pertanyaan memilih mana antara menyantap Tikus dengan Cicak? Kemungkinan besar Buaya akan menjawab memilih memangsa yang lebih besar. Yakni tikus, jika tujuannya adalah untuk mengenyangkan perut. Tapi kalau memiliki tujuan yang lain, misalnya merasa tersaingi karena tubuhnya agak-agak mirip? Entahlah, saya belum mendapatkan pers rilis tertulis dari Buaya. Atau mungkin ada alasan lain, karena sudah tidak ada lagi tikus sehingga Buaya melirik Cicak untuk jadi santapan? Entahlan, saya juga tidak tahu, karena Buaya belum pernah menggelar jumpa pers. Lalu, benarkan tikus-tikus sudah pada musnah di negeri ini sehingga Cicak yang jadi sasaran Buaya?
Nah, berarti keberadaan Cicak saat ini terancam karena sedang bermusuhan dengan Buaya. Tak berlebihan jika binatang yang biasanya nempel di dinding ini terusik jiwanya. Masa-masa indah berburu serangga kecil dengan lidah sebagai senjatanya, bakal tak lagi dinikmati Cicak jika Buaya masih saja mengincarnya.
Dibanding Buaya, Cicak memiliki tubuh kecil yang memiliki kelebihan nempel di permukaan yang licin. Dibanding Buaya, makanan Cicak tidak gede. Cukup serangga-serangga kecil. Perutnya gak muat. Rasanya mustahil Cicak makan Buaya. Tetapi masuk akan jika Buaya makan Cicak. Perseteruan antara Buaya dengan Cicak ini, mungkin membuat Tikus tertawa terbahak-bahak. “Hik..hik..hik..” tawa tikus lirih, karena takut ketahuan sedang ngetawain Buaya vs Cicak.(**)

03 November 2009

Ongkos Jaga Presiden

“Saya ingin menjadi presiden bukan karena tawaran kesempatan untuk menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi, tetapi karena tawaran untuk bisa melakukan sesuatu”. (Richard M. Nixon)

TIDAK Diketahui seberapa besar ongkos yang harus dikeluarkan oleh negara untuk menjaga keamanan Presiden RI selama ini. Namun yangt pasti membutuhkan duit gede. Karena sebagai pemimpin negara, seorang presiden harus dijaga dari berbagai ancaman keamanan yang membahayakan. Seperti apakah pengamanan terhadap presiden Amerika Serikat yang konon banyak musuhnya?
Khusus untuk Barack Obama adalah presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat sehingga rawan menjadi korban pembunuhan di negara yang tingkat rasialismenya ini masih tinggi. Wajar jika pada pidato kemenangan Obama tanggal 4 November 2008 lalu, dia berada di balik kaca tipis anti peluru yang sengaja dibuat tak terlihat oleh mata telanjang untuk mengelabuhi pihak-pihak yang bermaksud membuat onar.
Total ancaman sepanjang kampanye yang ditujukan kepada pria berdarah Kenya ini dan keluarganya adalah sebanyak 500 ancaman.
Setelah menjabat sebagai orang nomor 1 di AS, pasukan pengaman presiden dan keluarganya, Secret Service, memesan kendaraan Limosin untuk sang presiden yang menurut Daily Telegraph, kendaraan ini bukan hanya anti peluru, tetapi juga anti bom. Apalagi saat ini di AS sedikitnya ada 200 juta warganya memiliki ijin kepemilikan senjata api. Kebencian rasial belum musnah dari negeri Paman Sam ini. Data pemerintah menyebutkan, ada sekitar 30.000 kematian akibat senjata api di seantero AS. Parahnya, seorang presiden pun bahkan tidak terlepas dari ancaman dengan senjata api.
Sejarah AS mencatat, sebanyak 4 orang presidennya tewas ditembak ketika masih menjabat. Mereka adalah Abraham Lincoln, James A. Garfield, Wiliam McKinley dan John F. Kennedy. Sedangkan dua orang presiden dinyatakan luka-luka akibat dalam percobaan pembunuhan, salah satunya adalah Ronal Reagen. Artinya, untuk pengamanan bagi Obama adalah pekerjaan super sulit bagi agen-agen rahasia Negara ini. Sehingga membutuhkan taktik dan strategi yang beragam. Termasuk pengamanan bagi di sekitar tempat tinggal Obama dan keluarganya di Chicago.(***)

13 Oktober 2009

Rp 20.000 per Jam

“Anak-anak selamanya menerangi rumah tangga dan cahayanya tidak akan pernah sirna”.(Anonim)

ADA kisah menarik yang di ceritakan Dr. Anita di NET-P beliau yang berjudul “Temukan Alasan Anda”
1 jam Rp 20.000. Berikut kisahnya….
Pada malam hari sekitar jam 21.00 WIB di sebuah kota industri yang sedang berkembang, seorang bapak yang kelihatan sangat lelah berjalan memasuki rumahnya. Sesampainya di rumah dia disambut oleh anaknya yang berumur 6 tahun dengan begitu cerianya dan langsung mencium tangan di bapak. Terjadilah percakapan singkat:
”Kenapa kamu belum tidur?” tanya sang ayah kepada anaknya.
”Masih menunggu bapak,” kata si anak dengan polos.
”Emang ada apa? Ayo sampaikan!”
”Aku ada perlu sesuatu pak,” katanya seakan memohon.
“Pak…(dengan sedikit ketakutan) aku mau tanya, berapa bapak dibayar dalam 1 jam kalau bekerja?”
Si bapaki langsung tersentak dan membentak si anak, “Itu bukan urusan kamu….!!”.
“Tapi aku pingin tau pak?” Pinta si anak dengan wajah sangat ketakutan..
Karena tidak ingin percakapan jadi panjang, si ayah kemudian menjawab, bahwa dia dibayar sebesar Rp 20 ribu rupiah per jam.
Anaknya hanya bisa terdiam dan bersedih ketika bapaknya memintanya agar segera tidur. Tapi dia sempat meminta uang sebesar Rp 10.000 rupiah.
”Untuk apa, kalau emang hanya pengen minta uang, mengapa pakai nanya-nanya adi mau minta uang kenapa pakai tanya berapa gaji bapak,” katanya sambil memberikan uang Rp 10.000
Sambil berlari memasuki kamarnya, si anak ucapkan terima kasih. Setelah mulai reda emosinya, dia akhirnya tersadar, mungkin tadi dia terlalu keras dengan anaknya, maka diapun mendatangi kamar anaknya dan bertanya untuk apa uang tadi?
Si anak dengan tidak menjawab, mengeluarkan sejumlah uang recehan dari bahwa kasurnya. Melihat hal ini, si bapak jadi tambah marah.
“Kamu kan ada uang, kenapa tadi masih minta uang lagi…mau jajan terus ya…?”
“Tadi saya ada uang Rp 10 ribu, tapi masih kurang Rp 10 ribu lagi supaya genap Rp 20 ribu untuk membayar satu jam agar bapak pulang lebih awal. Karena aku kangen makan bareng sama bapak dan ibu, aku kangen dengan senyum bapak, aku kangen bermain dengan bapak, maukah pak?” ujar si anak ketakutan sambil menyerahkan uang Rp 20.000 itu.(**)

12 Oktober 2009

Berjuang Untuk Mati

“Kematian adalah suatu perjalanan yang besar dan dahsyat”.(James Matthew Barrie)

SEORANG gadis Inggris bernama Hannah Jones berjuang keras agar dirinya dapat segera mengakhiri hidupnya. Singkatnya, gadis berambut pirang ini segera ingin mati untuk mengakhiri segala penderitaannya. Keputusan untuk mati ini sangat berani diambil oleh gadis berusia 13 tahun (pada 2008) yang menderita cardiomyopathy dan leukemia ini. Dia lebih memilih menjemput maut ketimbang didatangi maut.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Pengadilan Tinggi Horefordshire mengabulkan hak Hannah Jones untuk mati di tengah-tengah keluarganya ketimbang menjalani operasi dan terapi-terapi yang sudah bosan dijalaninya selama ini. Gadis asal Marden dekat Herefordshire ini mengaku sudah muak menjalani terapi kesehatan dan merindukan kembali merasakan kehangatan di tengah-tengah keluarganya. Maklum, diusianya yang baru 13 tahun, dia sudah 8 tahun berada di rumah sakit. Sejak usia 5 tahun dia divonis mengidap penyakit kanker darah ini dan terpaksa menjalani perawatan jangka panjang, karena dia juga menderita penyakit kelainan otot jantung atau cardiomyopathy. Akibatnya kemampuan jantung memompa darah hanya 10 persen dari kapasitas normal. Dia sudah menjalani operasi pacemaker sebanyak 3 kali. Mudah kah keinginan mati putri pasangan Andrew dan Kirsty Jones ini?
Divisi Perlindungan Anak Herefordshire Primary Care Trust menegaskan, bahwa cara untuk mengindari maut dari penyakit yang diderita Hannah adalah dengan melakukan transpalasi jantung. Jika keluarga Jones menolak, maka devisi ini akan memperkarakannya ke pengadilan. Wow, untuk mati pun ternyata tak gampang.(*)

14 September 2009

Aborsi

AKSI jahat menggugurkan bayi-bayi manusia tak berdosa akibat dari perbuatan terlarang dua insan tak bertanggung jawab, masih terus berlangsung. Tak terhitung orok jabang bayi yang membusuk di tempat sampah, dikubur missal dan entah berapa lagi yang dibuang ke sungai, danau, laut, dibenamkan ke rawa-rawa dan dilempar ke jurang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNO (United Nation Organization) pernah mencatat, bahwa setiap tahunnya telah terjadi sekitar 75.000.000 kasus kehamilan yang tidak diinginkan akibat free sex alias pergaulan sek bebas. Dari angka itu, sebanyak 40.000.000 di antaranya diakhiri dengan aborsi. Sekitar 20.000.000 aborsi dilakukan dengan cara tak aman dalam arti menggunakan alat ala kadarnya dan ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Sisanya aborsi dilakukan dengan baik setelah melewati pertimbangan-pertimbangan medis. Padahal, aborsi yang dilakukan dengan cara tidak aman dapat menyebabkan kerusakan pada kelamin, system reproduksi bisa kacau, infeksi, pendarahan dan leher rahim robek serius.
Seorang wanita yang pernah melakukan aborsi menuturkan kepada saya: “Menunggu saat-saat aborsi adalah situasi yang paling menegangkan,menakutkan dan membutuhkan seseorang yang mampu memberikan sugesti dan jaminan bahwa semuanya akan nerjalan baik-baik saja. Sindroma kematian selalu membayangi sebelum dilakukan aborsi, bahkan bertahun-tahun hingga seumur hidupku setelah aborsi. Rasanya sangat sakit dan menakutkan,” tuturnya.(**)

Haram

“Anak bangsa ini membutuhkan kekuatan untuk bersandar, memerlukan dada untuk tempat menangis dan memerlukan contoh untuk tempat belajar”.(Anonim)

YANG disebut dengan barang haram, adalah sesuatu yang didapatkan secara illegal dan dilarang oleh aturan maupun norma agama. Barang siapa memiliki, menyimpan dan memakan atau mengkonsumsi barang haram tersebut, maka hukumnya adalah dosa dengan ganjaran yang sudah menunggu disebut Neraka.
Salah satu barang haram yang saat ini tengah membikin puyeng adalah narkotika dan barang-barang psikotropika berbahaya. Sudah tahu dampaknya secara kesehatan buruk dan dilarang hukum, tetap saja banyak orang tolol mengkonsumi dan mengedarkannya secara gelap. Padahal kalau sudah jadi pecandu berat, badan jadi kurus kerempeng, mata kuyu, pikiran jadi bego, badan sempoyongan, ngomongnya ngeracau, hidung meler dan jika tak dihentikan, hanya tinggal menunggu kedatangan malaikat maut pencabut nyawa. Anehnya, walaupun banyak orang yang dikerangkeng polisi karena bergaul dengan barang haram ini, ada saja yang ndak kapok dan kembali ke lembah memabukkan itu.
Catatan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang telah melakukan penelitian bersama Universitas Indonesia tahun baru-baru ini, setiap tahun ada 15 ribu jiwa mati konyol di tangan cengkraman maut narkotika dan psikotropika. Dari 82 juta pemuda di Indonesia, sebanyak 2 juta diantaranya alami ketergantungan. Ironisnya, sekitar 30 % korbannya adalah anak-anak pelajar dan mahasiswa yang notabene adalah kaum terpelajar dan terdidik. Apa jadinya jika anak bangsa ini bermental bobrok karena barang haram itu. Bagaimana nasib regenerasi kepemimpinan dan pembangunan bangsa jika anak bangsanya bloon? Apakah kita telah salah asuh? Jangan keburu pesimistis! (***)