07 Agustus 2010
“Kebebasan adalah hak untuk melakukan apa saja, sepanjang diizinkan oleh undang-undang”.(Charles Baron de Montesquieu)
TERLEPAS dari perdebatan yang hanya mengabis-habiskan energi soal halal dan haramnya Facebook, ternyata Facebook ini bisa menjerat buronan polisi. Begini ceritanya…
Carmel Corbo dan Gordon Poyser warga Canbera Australia meminjam uang sebesar $A 150 kepada MKM Capital untuk membeli rumah. Saat jatuh tempo, pasangan ini tak mampu membayar, dan memilih untuk kabur. Menurut prosedur hukum di negara itu, jiak tersangka tak hadir dalam persidangan, pengadilan akan menerbitkan surat gugatan. Surat ini harus disampaikan penggugat kepada tersangka. Biasanya bisa dikirim via jasa pos atau kurir. Tapi karena pasangan ini tak diketahui dimana rimbanya, maka penggugat alami kesulitan mengirim dukumen ini. Akhirnya, pengacara MKM Capital mengumumkan pencarian keduanya di koran Canbera Times. Tapi keduanya tak berhasil diketemukan, seperti layaknya raib ditelan bumi. Padahal, sebenarnya keduanya tak benar-benar ngumpet. Dalam ketidakjelasan alamatnya, ternyata keduanya masih aktif di Facebook. Pengacara MKM Capital, berhasil memantaunya melalui daftar teman dan aktivitas keduanya di situs jaringan social ini. Lembaga pembiayaan ini pun memohon kepada Mahkamah Agung Australia untuk menetapkan Facebook sebagai media yang sah untuk menyampaikan dokumen gugatan. Desember 2008, MA Australia mengabulkan permohonan itu, dan Australia menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Facebook sebagai media legal di pengadilan.
Kisah lainnya, Facebook juga berurusan dengan hukum di Toronto, Canada. Bermula ketika Stephanie Rengel, 14 tahun, dibunuh oleh dua rekannya yang berusia 15 tahun dan 17 tahun di malam tahun baru 2009. Undang-Undang Kriminal Remaja (The Youth Criminal Justice Act) negara itu melarang menyiarkan nama korban atau pelaku yang masih di bawah umur, alias masih kurang dari 18 tahun. Kecuali jika orang tua korban mengizinkan demi keperluan pelacakan. Maka ketika pembunuhnya tertangkap, kepolisian Toronto menggelar konfrensi pers dan meminta media tak menyebutkan namanya. Mereka yang melanggar beresiko dikirim ke penjara. Tak dicantumkan di media massa, informasi itu justru muncul panjang lebar di Facebook. Teman-teman Stephanie membuat groups, kelompok virtual di Facebook, untuk mengenang almarhumah. Bukan hanya nama, foto Stephanie dan pembunuhnya malah dipajang besar-besar. Corey Hafezi, pengelola groups itu tak menyadari telah melanggar larangan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Kriminbal Remaja. Alain Charette, juru bicara Departemen Hukum, menyatakan larangan publikasi di media itu juga berlaku untuk internet, termasuk Facebook. Kelompok maya ini pun dibreidel demi hukum, walaupun informasi yang ditayangkan sudah terlanjur menyebar luas.
Selanjutnya, Edward Richardson berang bukan kepalang terhadap isterinya, Sarah, yang mengubah statusnya di situs Facebook dari married menjadi single. Warga Staffordshire Inggris itu menelpon isterinya, tapi tak dijawab. Pria berusia 41 tahun itu kemudian menyambangi rumah mertuanya dan menikam isterinya hingga tewas mengenaskan.
Facebook memang tak bisa dianggap main-main. Setelah lima tahun berkiprah, kekuatan Facebook menyebarkan informasinya mulai dirasakan “mengancam” berbagai pihak. Pemerintah Maroko berhasil mencokok Fouad Mourtada, seorang insinyur berusia 26 tahun yang “iseng-iseng” membuat akun Pangeran Moulay Rachid, adik Raja Mohammed VI. Mourtada ditangkap pada Maret 2008 dengan tuduhan kejahatan pemalsuan identitas. Pemerintah Maroko menyatakan satu-satunya sumber informasi keluarga kerajaan adalah Maghreb Arabe Presse, kantor berita resmi negara itu, bukan situas web. Kemudian Pemerintah Iran dan Suriah misalnya, sampai harus memblokir situs ini. Iran yang juga menututp akses YouTube dan MySpace, khawatir Facebook menjadi saran penggalangan kekuatan oposisi. Sedangkan Suriah tak ingin situs ini jadi sarana pengkritik pemerintahan, termasuk khawatir pengaruh Yahudi Israel menyusup masuk lewat Facebook.(***)
Artis “Ganti Baju”
“Jika Anda ingin tahu siapakah sebenarnya dia, maka angkatlah dia sebagai penguasa”. (Pepatah Yugoslavia)
TAK lama lagi, wajah parlemen kita di pusat, bakal lebih berwarna. Karena sejumlah artis termasuk pelawak yang terpilih dalam pemilihan umum legislative 2009 lalu, bakal segera “ganti baju”. Disebut berganti baju, karena mereka sebelumnya adalah insane itertaiment yang tugasnya menghibur rakyat. Kini mereka akan bertugas membahas sejumlah peraturan dan perundang-undangan untuk Negara Indonesia tercinta ini.
Jika pada tahun 2004 lalu hanya ada 5 orang dari sekitar 25 caleg kalangan artis, maka pada tahun ini jumlahnya bertambah menjadi 15 orang dari 70-an caleg artis. Sebanyak 15 orang artis yang dipastikan melenggang ke Senayan itu jika dihitung presentasenya mencapai sekitar 2,6 % dari 560 kursi yang tersedia di DPR.
Artis yang berganti baju itu adalah pelawak Eko “Patrio” Purnomo dan Primus Yustisio yang diusung oleh Partai Amanant Nasional (PAN). Sementara itu caleg artis dari Partai Demokrat (PD) yang lolos ke Senayan berjumlah tujuh orang. Mereka adalah Vena Malinda, Tere Pardede, Adjie Massaid dan isterinya Angelina Sondakh, Inggrid Kansil, Nurul Qomar, dan Ruhut Sitompul. Caleg artis yang diusung Partai Golkar yang juga melenggang ke Senayan sebanyak tiga orang, yakni Nurul Arifin, Tantowi Yahya, dan Teti Kadi. Selanjutnya, PDI Perjuangan hanya mampu mengusung dua orang caleg artisnya ke Senayan, yaitu Rieke Dyah Pitaloka dan pelawak Dedi “Miing Bagito” Gumelar. Dari Partai Gerindra hanya ada satu orang, yaitu Rachel Maryam.
Secara kualitas, apakah mereka bakal mampu menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat? Jawabannya, ada pada masa lima tahun ke depan untuk membuktikannya. Jika kontribusi mereka sangat kecil bagi rakyat, lebih baik di pemilu legislative mendatang tak perlu memilih caleg artis. Yang perlu diingat, mereka melenggang ke Senayan karena bukan sekedar mewakili partainya pengusungnya.(**)
Orang Kaya Baik Hati
“Menjadi orang miskin adalah masalah. Tetapi menjadi orang kaya, tidak selalu menjadi jalan keluarnya”.(Ir Anton L Wartawan)
TIDAK sedikit orang kaya yang baik hati, namun banyak pula orang kaya yang jahat hati yang tidak peduli dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya.
Era filantropi (orang-orang kaya dermawan), dimulai pada era Andrew Carnegie si Raja Baja Dunia, setelah dia menulis buku berjudul “The Gospel of Wealth” yang berisi ajakan bagi orang-orang kaya untuk berbagi keberuntungan di sisa hidupnya. Dia sendiri menyumbangkan seluruh kekayaannya pada tahun 1889 sebesar US$ 350 juta. Kini senilai US$ 3 Milyar, yang digunakan untuk membangun sebuah perpustakaan di seluruh Amerika Serikat.
Apa yang dilakukan oleh Carnegie, ternyata membawa inspirasi bagi orang kaya yang lain. Terbukti pada tahun 1907 bankir kenamaan, Russel Sage, wafat dan jandanya, Olivia, mendirikan yayasan besar dan modern pertama di Amerika untuk mendanai proyek perbaikan sosial di negara itu. Tahun 1913, orang kaya lain bernama John D. Rockfeller mendirikan Yayasan Rockfeller dan menghibahkan dana sebesar US$ 540 juta di sepanjang hidupnya. Hebatnya lagi, anaknya yang bernama John D. Rockfeller Jr juga menyumbang dana dalam jumlah sama.
Pada tahun 1947, ketika Raja Mobil Henry Ford wafat dan menghibahkan sebagian kekayaanya ke Yayasan Ford miliknya, dan pada tahun 2005 Ford juga menyumbang lagi sebesar US$ 830 juta. Tahun 1997, Ted Turner pendiri dan pemilik CNN (Cable News Network) pernah menyumbang dana sebesar US$ 1 juta ke PBB yang akhirnya mampu menggugah filantropis baru di AS jadi penderma. Bahkan pada tahun 1999, Bill Gates (bos microsoft) dan Isterinya Melinda Gates menghibahkan sebagian kekayaannya sebesar US$ 16,5 Milyar untuk membangun sebuah organisasi baru filantopi yang kini telah menjadi yayasan terbesar di AS. Sumbangan pertama Gates adalah duit sebesar US$ 750 juta untuk mendanai pembuatan vaksin bagi anak miskin. Yang terbaru Juni tahun 2006, Warren Buffet (bos jaringan tv kabel), siap melepas sebagian kekayaannya sebesar US$ 36 juta untuk yayasan keluarga dengan catatan setelah dirinya wafat. Tentunya, masih ada juga filantopis lain yang rela menyisihkan kekayaannya untuk membantu orang lain. Andaikan saja orang-orang kaya di negeri ini memiliki jiwa social yang tinggi seperti mereka, tentunya akan banyak orang miskin di Indonesia bakal terbantu.(***)
TIDAK sedikit orang kaya yang baik hati, namun banyak pula orang kaya yang jahat hati yang tidak peduli dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya.
Era filantropi (orang-orang kaya dermawan), dimulai pada era Andrew Carnegie si Raja Baja Dunia, setelah dia menulis buku berjudul “The Gospel of Wealth” yang berisi ajakan bagi orang-orang kaya untuk berbagi keberuntungan di sisa hidupnya. Dia sendiri menyumbangkan seluruh kekayaannya pada tahun 1889 sebesar US$ 350 juta. Kini senilai US$ 3 Milyar, yang digunakan untuk membangun sebuah perpustakaan di seluruh Amerika Serikat.
Apa yang dilakukan oleh Carnegie, ternyata membawa inspirasi bagi orang kaya yang lain. Terbukti pada tahun 1907 bankir kenamaan, Russel Sage, wafat dan jandanya, Olivia, mendirikan yayasan besar dan modern pertama di Amerika untuk mendanai proyek perbaikan sosial di negara itu. Tahun 1913, orang kaya lain bernama John D. Rockfeller mendirikan Yayasan Rockfeller dan menghibahkan dana sebesar US$ 540 juta di sepanjang hidupnya. Hebatnya lagi, anaknya yang bernama John D. Rockfeller Jr juga menyumbang dana dalam jumlah sama.
Pada tahun 1947, ketika Raja Mobil Henry Ford wafat dan menghibahkan sebagian kekayaanya ke Yayasan Ford miliknya, dan pada tahun 2005 Ford juga menyumbang lagi sebesar US$ 830 juta. Tahun 1997, Ted Turner pendiri dan pemilik CNN (Cable News Network) pernah menyumbang dana sebesar US$ 1 juta ke PBB yang akhirnya mampu menggugah filantropis baru di AS jadi penderma. Bahkan pada tahun 1999, Bill Gates (bos microsoft) dan Isterinya Melinda Gates menghibahkan sebagian kekayaannya sebesar US$ 16,5 Milyar untuk membangun sebuah organisasi baru filantopi yang kini telah menjadi yayasan terbesar di AS. Sumbangan pertama Gates adalah duit sebesar US$ 750 juta untuk mendanai pembuatan vaksin bagi anak miskin. Yang terbaru Juni tahun 2006, Warren Buffet (bos jaringan tv kabel), siap melepas sebagian kekayaannya sebesar US$ 36 juta untuk yayasan keluarga dengan catatan setelah dirinya wafat. Tentunya, masih ada juga filantopis lain yang rela menyisihkan kekayaannya untuk membantu orang lain. Andaikan saja orang-orang kaya di negeri ini memiliki jiwa social yang tinggi seperti mereka, tentunya akan banyak orang miskin di Indonesia bakal terbantu.(***)
Seandainya Tuhan Sibuk
“Saya tidak peduli pendapat orang tentang Tuhan. Apa pun itu, Tuhan telah berbuat begitu baik padaku”. (Godfrey Winn)
PERNAHKAH kita membayangkan bila pada saat berdoa dan memanggil-manggil asma Tuhan, kemudian mendengar kalimat ini: "Terima kasih, Anda telah menghubungi Tuhan. Tekan 1 untuk meminta, tekan 2 untuk mengucap syukur, tekan 3 untuk mengeluh, dan tekan 4 untuk permintaan lainnya”.
Bagaimana pula jika saat berdoa kita mendengar kalimat seperti ini: "Mohon maaf, saat ini semua malaikat sedang melayani pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan nomor urutannya".
Atau, bisakah kita membayangkan bila pada saat berdoa, tiba-tiba mendapat respons seperti ini: "Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat, tekan 1 dengan Malaikat Mikail, tekan 2 dengan malaikat lainnya, tekan 3 Jika Anda ingin mendengar penyegaran rohani saat Anda menunggu, tekan 4 Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga dan neraka. Silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!". Atau bisa juga Anda mendengar kalimat seperti ini : "Silakan mencoba kembali esok hari." atau..."Kantor ini ditutup pada akhir Minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 09.00 pagi."
Alhamdulillah. ... Tuhan Yang Maha Esa Maha Pengasih, karena kita dapat “menelpon”-Nya setiap saat. Kita bisa memanggilnya kapan saja karena Dia Maha Mendengar tanpa pernah bosan menerima panggilan hamba-hambanya. Tuhan menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi. Saat kita memanggil-Nya, tak tak akan pernah mendengar ucapan seperti ini: “Maaf, panggilan yang sedang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan. Tunggulah beberapa saat lagi”.(**)
Kisah Rojali dan Sumitro
“Nasihat jarang diterima dengan baik oleh hampir semua orang yang memerlukannya.” (Lord Chesterfield)
SEBELUMNYA, saya minta maaf kepada Anda yang kebetulan punya nama Rojali atau Sumitro yang akan saya gunakan sebagai istilah dalam tulisan edisi kali ini. Jika ada kesamaan cerita, nama dan tokoh pada tulisan ini, hanyalah factor kebetulan belaka tanpa ada unsur kesengajaan.
Rojali (Rokok Jarang Beli) adalah istilah yang tak jauh-jauh beda dengan Sumitro (Suka Minta Rokok). Keberadaan mereka banyak dijumpai di sekitar kita, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Keduanya adalah kelompok perokok yang tak mampu menahan diri saat mulutnya terasa masem. Ada lagi istilah yang masih mirip juga dengan Rojali dan Sumitro, yakni Romantis (Rokok dan Makan Gratis).
Untuk mendapatkan sebatang rokok demi mulutnya bisa ngebul, Rojali dan Sumitro biasa meminta rokok dengan teman-temannya. Bermodalkan pandai ngobrol, keduanya berharap akan mendapatkan sebatang rokok. Kadang kala Rojali dan Sumitro juga mampu beli rokok, tapi amat jarang, karena dompetnya sering kosong melompong. Mengapa si Rojali dan Sumitro sulit menghilangkan kebiasaannya merokok? “Kasihan petani tembakau jika semua orang berhenti merokok,” kata Rojali dan Sumitro enteng.
Rokok menurut guru ngaji hukumnya makruh karena dinilai membawa ketidakbaikan bagi kesehatan tubuh. Wajar jika kampanye anti rokok dan anti asap tembakau terus mengumandang secara internasional.
Indonesia menduduki peringkat 5 jumlah perokok terbesar di dunia. Kaum remajanya malah divonis jumlahnya tertinggi di dunia. Tercatat sebanyak 13,2 % kaum pelajar di Indonesia adalah perokok aktif. Di negara-negara lain, paling tinggi hanya 11 %. Catatan WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau) tahun 2007, jumlah meninggal dunia akibat rokok juga cukup signifikan. Dari total 1,2 juta orang di Asia Tenggara yang menggunakan bahan baku tembakau, sebesar 25 %-nya berada di Indonesia, diantaranya meregang nyawa.
Sementara itu menurut pakar kesehatan ada sekitar 43 jenis penyakit yang bisa ditimbulkan akibat merokok hingga berujung kepada kematian. Dari sebatang rokok, mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia berbahaya, terutama tar, nikotin dan karbon monoksida. Tapi Rojali maupun Sumitro tak menggubrisnya. Ada anekdot, sangat sedikit jumlah perokok berat yang masuk ke IGD (instalasi gawat darurat) rumah sakit. Pasalnya, banyak perokok berat yang keburu tewas di perjalanan sebelum tiba di rumah sakit. Nah, lho. Tunggu apalagi. No Smoking!(***)
B O M !!
“Bom adalah benda sangat berbaya yang tidak dapat dipercaya sampai tiba saatnya diledakkan”.(Patrick White)
DILEDAKKANYA Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton di Mega Kuningan Jakarta pada Jumat, 18 Juli 2009 lalu oleh terorisme, menyisakan kepedihan. Apa pun alasannya, aksi terorisme tidak dapat dibenarkan. Dunia pun mengutuknya. Tapi, tahukah Anda?
ADA seorang teman berpesan kepada saya supaya untuk sementara waktu jangan keluar rumah dahulu, berhubung dari kabar terakhir dua orang anak dari Dr. Ashari (tokoh teroris teman Noordin M Top) sedang berjalan-jalan dengan membawa masing-masing sepasang bom di dadanya. Kedua anak itu bernama Ayu Ashari dan Sarah Ashari.
Sementara itu segerombolan teroris ingin memasang bom waktu di seluruh pesawat yang ada di sebuah bandara internasional. Pimpinan teroris yang menjadikannya bandara itu sebagai markas besarnya, berpesan kepada anak buahnya supaya jangan memasang bom di pesawat-pesawat milik Indonesia, seperti pesawat Garuda, Batavia Air, Lion Air, dan sejenisnya yang saat itu sedang parkir. Perintah untuk tidak memasang bom di pesawat-pesawat milik Indonesia bukan karena alasan takut dengan negara Indonesia. Melainkan karena pesawat-pesawat Indonesia itu sering telat lepas landas, sehingga ada kekhawatiran bom-nya meledak di badara itu dan mereka turut menjadi korban.
Masih berkaitan dengan humor bom, telah digelar perlombaan membuat bom antara 3 negara yaitu Irak , Amerika , dan Indonesia. Peserta dari Irak meledakkan bomnya dengan jarak 10 kilometer dan korban yang meninggal adalah 100 orang. Peserta berikutnya adalah dari Amerika dan meledakkan bomnya pada jarak 1.000 kilometer dengan korban jiwa sebanyak 1.000 orang. Giliran peserta dari Indonesia juga mempersiapkan bomnya dan akan diledakkan. Tetapi setelah ditunggu-tunggu seharian bomnya tidak juga meledak. Jadi orang - orang yang menonton pertandingan yang jumlahnya 10 ribu itu penasaran dan mendekati bom milik Indonesia itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata setelah didekati bom milik Indonesia meledak. Dengan demikian, bom Indonesia yang dipasang pada jarak 0,5 kilmeter meledak dengan korban jiwa 10 ribu orang.
Tapi tahukan Anda? Kebanyakan orang menyangka Albert Einstein adalah penemu bom atom, padahal penemunya adalah Julius Robert Oppenheimer. Oppenheimer hanya menggunakan teori relativitas milik Enstein sebagai inspirasi. Nama Julius Robert Oppenheimer akan selalu diingat dan dipuji dengan ciptaannya yaitu alat penghancur yang dahsyat pada tahun 1940-an, bernama Bom Atom. Saat musim panas 1945 bom ciptaannya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang langsung menyerah kalah atas AS dan sekutunya. Oppenheimer lahir dan besar di New York City, 22 April 1904. Walaupun dia sekolah di bidang budaya dan etnis serta tertarik dengan bidang bahasa, tapi dia juga berminat dengan Matematika dan ilmu pengetahuan dibanding teman-temannya. Setelah lulus dari Harvard University tahun 1925, Oppenheimer belajar di Cambridge University di Inggris dan mengejar gelar PhD di Jerman. Dia kembali ke Amerika Serikat tahun 1929 dan mulai mengajar di University of California di Berkeley dan California Institute of Technologi. Tahun 1963, Presiden AS Lyndon B. Johnson memberinya penghargaan berupa Enrico Fermi Award dari Komisi Energi Atom. Terakhir Oppenheimer mengajar di Princeton University dan pensiun tahun 1966. Setahun kemudian dia meninggal dunia karena kanker tenggorokan.(***)
Gaji Wakil Rakyat
“Di dalam negara demokrasi, setiap orang berhak menyatakan pendapatnya, dan setiap orang lain berhak pula untuk tidak mendengarkan pendapat orang itu”. (G. Norman Collie)
BANYAKNYA parpol peserta pemilu legislative 2009 lalu, otomatis berdampak pada kesulitan masyarakat dalam memilih, ditambah besarnya kertas suara yang ukurannya 54 cm x 84 cm dengan jumlah calon legislatif yang lebih dari seratus orang. Mengingat besarnya jumlah caleg yang diusung parpol, ibarat sedang ada pembukaan lowongan pekerjaan secara nasional. Inilah fakta demokrasi.
Secara keseluruhan jumlah orang yang bermimpi jadi anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) RI adalah sekitar 11.868 orang yang berebut 560 kursi di Senayan. Untuk DPRD I atau provinsi, jumlah calegnya sebanyak 112.000 orang guna memperebutkan 2.000 kursi. Untuk DPRD II kabupaten / kota jumlah calegnya lebih fantastis lagi, mencapai 1,5 juta orang untuk 15.000 kursi, dan untuk DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang menyediakan 132 kursi, dijadikan rebutan oleh sebanyak 1.000 orang. Luar biasa. Selanjutnya soal anggaran, untuk pemilu legislative 2009 “cuma” sebesar Rp 47,9 Triliun, padahal pada Pemilu 2004 hanya sebesar Rp 6,988 triliun. Mengapa banyak orang bejuang untuk berebut menjadi anggota legislative?
Untuk ukuran saya, gaji wakil rakyat untuk DPR-RI sangat luar biasa besarnya. Sementara itu gaji saya saat ini masih ikut standar UMR dibawah Rp 1 juta dengan bukti slip gaji terlampir. Anggota DPR RI bakal mendapat duit masuk ke kocek yang dapat dikelompokkan dalam 3 kategori. Yakni pendapatan rutin per bulan, pendapatan rutin non perbulan dan pendapatan insidentil.
Kalo boleh saya rincikan, konon pendapatan rutin per bulan seorang wakil rakyat yang katanya terhormat di DPR RI meliputi gaji pokok Rp 15.510.000, tunjangan listrik Rp 5.496.000, tunjangan aspirasi Rp 7.200.000, tunjangan kehormatan Rp 3.100.000, tunjangan komunikasi Rp 12.000.000 dan tunjangan pengawasan Rp 2.100.000. Totalnya Rp 46.100.000 per bulan, dan kalo dihitung selama setahun berarti Rp 554.000.000. Sedangkan penerimaan non bulanan atau non rutin dimulai dari penerimaan gaji ke-13 setiap bulan Juni sebesar Rp 16.400.000, dan dana penyerapan (reses) Rp 31.500.000 (dalam satu tahun ada 4 kali reses, jika ditotal berarti Rp 118.000.000). Selain itu masih ada pendapatan yang bersifat sewaktu-waktu yaitu, dana insentif pembahasan rencana undang-undang dan honor melalui uji kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000 per kegiatan. Dana kebijakan intensif legislatif sebesar Rp 1.000.000 per RUU. Jika dihitung-hitung keseluruhan maka dalam setahun mencapai hampir Rp 1 Milyar rupiah.
Jika menoleh ke belakang pda tahun 2006 jumlah duit rakyat yang diterima anggota DPR dalam satu tahun mencapai Rp 761.000.000 dan pada tahun 2007 mencapai Rp 787.100.000, belum termasuk dana pensiun yang mereka dapatkan ketika tidak menjabat lagi. Selain itu, masih banyak pendapatan bagi wakil rakyat yang "lincah" mencari peluang di sana-sini. Tapi bagi wakil rakyat yang kurang cantik cara bermainnya ya, berurusan dengan KPK, meringkuk di sel dan ujung-ujungnya stress lagi. Lalu seberapa besar pendapatan para wakil rakyat di DPRD kabupaten/kota? Gede juga. Pengen jelasnya, tanya langsung kepada yang bersangkutan yang saat ini masih duduk.
Nah, siapa pun pasti menginginkan hidup berlimpah duit, termasuk saya. Punya kekuasaan besar dan dengan duit sebanyak itu. Bagi yang mentalnya “sakit”, bisa untuk membayar cewek bahenol, memelihara perempuan matre jadi isteri simpanan, beli mobil mewah, nyanyi di karokean hingga bibir jontor, beli rumah gedongan, beli makanan enak (walaupun sementara masih ada jutaan orang yang susah makan teratur setiap harinya) dan untuk membayar kenikmatan surga duniawi lainnya. Bandingkan dengan saya yang gajinya masih UMR. Jauh,deh…!(***)
BANYAKNYA parpol peserta pemilu legislative 2009 lalu, otomatis berdampak pada kesulitan masyarakat dalam memilih, ditambah besarnya kertas suara yang ukurannya 54 cm x 84 cm dengan jumlah calon legislatif yang lebih dari seratus orang. Mengingat besarnya jumlah caleg yang diusung parpol, ibarat sedang ada pembukaan lowongan pekerjaan secara nasional. Inilah fakta demokrasi.
Secara keseluruhan jumlah orang yang bermimpi jadi anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) RI adalah sekitar 11.868 orang yang berebut 560 kursi di Senayan. Untuk DPRD I atau provinsi, jumlah calegnya sebanyak 112.000 orang guna memperebutkan 2.000 kursi. Untuk DPRD II kabupaten / kota jumlah calegnya lebih fantastis lagi, mencapai 1,5 juta orang untuk 15.000 kursi, dan untuk DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang menyediakan 132 kursi, dijadikan rebutan oleh sebanyak 1.000 orang. Luar biasa. Selanjutnya soal anggaran, untuk pemilu legislative 2009 “cuma” sebesar Rp 47,9 Triliun, padahal pada Pemilu 2004 hanya sebesar Rp 6,988 triliun. Mengapa banyak orang bejuang untuk berebut menjadi anggota legislative?
Untuk ukuran saya, gaji wakil rakyat untuk DPR-RI sangat luar biasa besarnya. Sementara itu gaji saya saat ini masih ikut standar UMR dibawah Rp 1 juta dengan bukti slip gaji terlampir. Anggota DPR RI bakal mendapat duit masuk ke kocek yang dapat dikelompokkan dalam 3 kategori. Yakni pendapatan rutin per bulan, pendapatan rutin non perbulan dan pendapatan insidentil.
Kalo boleh saya rincikan, konon pendapatan rutin per bulan seorang wakil rakyat yang katanya terhormat di DPR RI meliputi gaji pokok Rp 15.510.000, tunjangan listrik Rp 5.496.000, tunjangan aspirasi Rp 7.200.000, tunjangan kehormatan Rp 3.100.000, tunjangan komunikasi Rp 12.000.000 dan tunjangan pengawasan Rp 2.100.000. Totalnya Rp 46.100.000 per bulan, dan kalo dihitung selama setahun berarti Rp 554.000.000. Sedangkan penerimaan non bulanan atau non rutin dimulai dari penerimaan gaji ke-13 setiap bulan Juni sebesar Rp 16.400.000, dan dana penyerapan (reses) Rp 31.500.000 (dalam satu tahun ada 4 kali reses, jika ditotal berarti Rp 118.000.000). Selain itu masih ada pendapatan yang bersifat sewaktu-waktu yaitu, dana insentif pembahasan rencana undang-undang dan honor melalui uji kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000 per kegiatan. Dana kebijakan intensif legislatif sebesar Rp 1.000.000 per RUU. Jika dihitung-hitung keseluruhan maka dalam setahun mencapai hampir Rp 1 Milyar rupiah.
Jika menoleh ke belakang pda tahun 2006 jumlah duit rakyat yang diterima anggota DPR dalam satu tahun mencapai Rp 761.000.000 dan pada tahun 2007 mencapai Rp 787.100.000, belum termasuk dana pensiun yang mereka dapatkan ketika tidak menjabat lagi. Selain itu, masih banyak pendapatan bagi wakil rakyat yang "lincah" mencari peluang di sana-sini. Tapi bagi wakil rakyat yang kurang cantik cara bermainnya ya, berurusan dengan KPK, meringkuk di sel dan ujung-ujungnya stress lagi. Lalu seberapa besar pendapatan para wakil rakyat di DPRD kabupaten/kota? Gede juga. Pengen jelasnya, tanya langsung kepada yang bersangkutan yang saat ini masih duduk.
Nah, siapa pun pasti menginginkan hidup berlimpah duit, termasuk saya. Punya kekuasaan besar dan dengan duit sebanyak itu. Bagi yang mentalnya “sakit”, bisa untuk membayar cewek bahenol, memelihara perempuan matre jadi isteri simpanan, beli mobil mewah, nyanyi di karokean hingga bibir jontor, beli rumah gedongan, beli makanan enak (walaupun sementara masih ada jutaan orang yang susah makan teratur setiap harinya) dan untuk membayar kenikmatan surga duniawi lainnya. Bandingkan dengan saya yang gajinya masih UMR. Jauh,deh…!(***)
Ketika Obama Stop Merokok
“Orang bijaksana lebih banyak belajar dari orang bodoh, ketimbang orang bodoh yang belajar dari orang bijaksana”. (Cato)
SEDIKIT yang tahu, bahwa pada mulanya Barrack Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke-44, penghuni gedung putih berkulit hitam pertama itu, adalah seorang perokok berat. Kini, dia sudah tak lagi merokok.
Bermula pada tahun 2006 ketika dia memutuskan keinginannya untuk menjadi presiden. Keinginannya itu disampaikannya kepada sang istri, Michelle LaVaughn Robinson Obama. Diluar dugaan, ternyata Obama mendapat dukungan dari istrinya, bahkan sang istri rela berhenti dari pekerjaannya sebagai Wakil Direktur Komunikasi dan Humas Rumah Sakit Chicago dengan gaji tahunan US$ 276.618 setara dengan Rp 3,1 Milyar. Di atas gaji Obama sebagai senator yang hanya US$ 157.082 per tahun atau setara dengan Rp 1,7 Milyar.
Tapi, dukungan sang istri kepada Obama ternyata tak gratis. Dia bersedia memberikan dukungan jika Obama berhenti kebiasaan jeleknya: merokok. Kesepakatan itu menjadi energi positif bagi Obama. Hasilnya, Obama tak hanya berhasil dalam Konvensi, dia bahkan berhasil menjadi orang nomor satu di negara adikuasa itu. Peribahasa menyebutkan, walaupun seseorang telah matang dan bijaksana, dia tetap membutuhkan nasihat. Lalu benarkah Obama berhenti merokok pasca terpilih sebagai presiden?
Beberapa stafnya konon pernah melihat Obama merokok lagi. Dimungkinkan karena banyaknya pekerjaan dan persoalan yang harus ditangani oleh presiden yang pernah menjadi “Anak Menteng” Jakarta ini. Belum diketahui pula, apa tanggapan sang isteri ketika mengetahui suaminya merokok lagi. Yang pasti, meskipun Michelle dikenal sebagai wanita keras bak batu cadas, namun mungkin ada kata maaf bagi Obama. Karena kini Obama bukan hanya sekedar suaminya, tetapi juga Presiden AS yang sebagian besar warganya adalah perkokok. Tulisan ini sengaja saya turunkan pada edisi ini, karena pada tanggal 31 Mei kemarin, seluruh dunia memperingati Hari Tembakau Sedunia. Ada anekdot, bahwa seorang perokok tidak akan pernah tua, karena kebanyakan dari mereka mati muda.(***)
Pemimpin Besar
“Agar dapat membangun kjekuasaan yang kokoh, seorang raja harus tega membunuh”. (Nicolo Machiaveli)
Proiyono B. Sumbogo dalam tulisannya mengatakan, bahwa sejarah mencatat kekuasaan bukanlah wilayah orang-orang suci, bertagwa, bermoral, jujur dan bijaksana. Semua itu tidaklah penting. Karena dalam torehan sejarah para pemimpin besar dunia, 9,99 % diantaranya adalah berjiwa penjajah. Logikanya, seorang penjajah pasti bukan orang suci, bukan orang bertaqwa, bukan orang jujur dan bukan orang bijaksana. Kita “sepakat”, jika seorang penjajah itu kejam, jahat dan pasti pembunuh.
Anda pasti pernah dengar nama Jengis Khan pemimpin Mongol yang berasal dari suku pengembara kecil yang akhirnya mampu menguasai lebih dari separuh dunia karena jiwa penjajahnya. Kemudian Iskandar Zulkarnain atau Alexander The Great, untuk menjadi pemimpin Imperium Macedonia sebagai negara yang besar, disegani dan ditakuti sepanjang sejarah dunia, dia harus membunuh bapaknya sendiri dan memperluas daerah kekuasaannya dengan cara menjajah negara lain. Ada lagi pemimpin bengis bernama Hitler yang sangat mengagungkan bangsa Aria-nya, sehingga bangsa Yahudi pun dibasmi. Hitler dikenal sebagai orator ulung dan diktator pengobrak-abrik dunia, sehingga sangat pantas jika disebut sebagai penjahat. Sejarah mencatat pula nama Musolini yang dikenal sebagai kriminal bagi dunia karena jiwa penjajahnya, tetapi dia adalah tonggak sejarah keagungan Imperium Romawi yang terus harum hingga saat ini di lembar-lembar buku sejarah dunia. Nah, yang terakhir adalah Bush, (presiden AS ke-43) yang boleh jadi dianggap penjahat bagi negara-negara timur seperti Kuwait, Irak, Iran, Libya dan negara-negara lain yang tak sejalan dengan kepentingan negaranya. Jika ada negara yang tidak sepaham pula dengan isi otak dan pemikirannya, sudah pasti bakal dia usilin terus.
Anda sepakat dengan saya bahwa mereka itu adalah orang-orang jahat? Sepakat tidak sepakat adalah jawaban yang objektif. Namun, sejak dahulu kala negara-negara hebat dan maju di Eropa atau Jepang di Asia mampu menjadi negara kuat, karena jiwa penjajah para pemimpinnya. Kerajaan-kerajaan besar Nusantara yang terkenal hebat dan kuat pun, karena jiwa penjajah para raja-rajanya. Bukan malah dijajah, sehingga harus kehilangan wilayah teritorialnya.
Setelah membaca tulisan ini, Anda bebas merenung, berpikir, membandingkan dan bebas pula untuk tidak berbuat apa-apa. Tapi, sekarang ini sejumlah nama tokoh bangsa kita sudah mulai bermunculan di bursa pencalonan pada Pemilu Presiden RI mendatang. Siapakah diantara mereka yang paling cocok? Entahlah.(**)
Merdeka…!!
“Sesuatu yang paling menyedihkan di dalam hidupku adalah ketika aku menemukan bahwa rakyat dapat memperoleh kemerdekaannya dari kolonialisme, tetapi menemukan diri mereka ternyata tidak bebas”. (Joshua Nkomo)
MERDEKA! Para orang kaya gedongan, elit politik, dan pejabat gedean dengan bangga mengumandangkan lagu kemerdekaan dan berteriak: Merdeka. Itu adalah hak mereka. Namun, anak-anak sekolah juga memekikkan kata merdeka hingga urat-urat leher mereka menegang. Sementara untuk bisa bersekolah, orang tua mereka harus bekerja keras membanting tulang, mandi keringat dan peluh akibat tingginya biaya pendidikan. Sumber dari Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006 menyebutkan, angka anak putus sekolah tingkat SD/Madrasah Ibtidaiyah mencapai 840.600 orang. Di tingkat SMP/MTs sebanyak 174.000 dan di tingkat SMA/SMK/MA tidak kurang dari 178.600 orang. Yang lebih menyedihkan lagi, anak yang tidak mampu bersekolah karena lagi-lagi alasan mahalnya biaya pendidikan adalah sebesar 4,2 juta orang. Konon, dari 2 juta orang lulusan SMA setiap tahunnya, hanya sekitar 500 ribu orang yang mampu lanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
Orang miskin meneriakkan teriakan merdeka, sementara itu baru-baru ini PBB menyajikan catatan kelam tentang tragedi kemanusiaan, di Indonesia jumlah penduduk miskin relative yang berpenghasilan kurang dari US$ 2 per hari menurut standar Bank Dunia, jumlahnya mencapai 60 %. Disebutkan pula, bahwa sekitar 20-30 % dari kelompok ini terkungkung dalam kemiskinan absolute, kurang sandang, kurang pangan, kurang papan, kurang air bersih, kurang pendidikan, kurang kesehatan dan kurang alat transportasi.
Teriakan petani juga membahana memekikkan kata merdeka, padahal sebagian dari mereka hidupnya belum sejahtera. Walaupun ada banyak komoditi ekspor negeri ini yang mampu berbicara banyak di pasar internasional. Misalnya kelapa sawit, dengan nilai ekspor CPO mencapai 60 % dari total perdagangan dunia dengan negara tujuan Belanda, India, Jerman, Italia, Brazil, Spanyol dan China. Ironisnya harga minyak goreng di dalam negeri selangit. Kemudian karet, Indonesia mendominasi pasar internasional dengan angka 33 %, bersama Thailand 25 %, dan Malaysia 13 %. Negara pengimpor terbesar karet olahan dari Indonesia adalah AS, Jepang, China, Korea Selatan, Rusia, Jerman, Kanada, Singapura dan Belgia. Ironisnya, harga karet pernah terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Komoditi lain adalah cokelat yang di pasaran internasional saat ini dukuasai oleh tiga negara, yakni Pantai Gading, Ghana dan Indonesia. Sedangkan negara importir cokelat adalah AS, Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis. Ekspor cekelat pada tahun 2007 mencapai 624.241 dan pada tahun 2008 diproyeksikan total ekspor mencapai 701.269 ton. Satu lagi adalah komoditi kopi dengan volume terbesar ekspor kopi Indonesia terdiri dari kopi Arabica dan Robusta. Nilai ekspor kopi Arabica Indonesia meningkat 20 % per tahun. Importir utama kopi dunia adalah Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Jepang dan Italia. Peringkat pertama produsen kopi dunia masih diduduki oleh Brazil dengan volume ekspor mencapai 1,2 ton per tahun. Tapi, kesejahteraan di negeri ini masih jauh panggang dari api. Apa yang salah, atau, adakah yang ngurus bangsa ini? Jawabannya adalah: Merdeka(***)
MERDEKA! Para orang kaya gedongan, elit politik, dan pejabat gedean dengan bangga mengumandangkan lagu kemerdekaan dan berteriak: Merdeka. Itu adalah hak mereka. Namun, anak-anak sekolah juga memekikkan kata merdeka hingga urat-urat leher mereka menegang. Sementara untuk bisa bersekolah, orang tua mereka harus bekerja keras membanting tulang, mandi keringat dan peluh akibat tingginya biaya pendidikan. Sumber dari Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006 menyebutkan, angka anak putus sekolah tingkat SD/Madrasah Ibtidaiyah mencapai 840.600 orang. Di tingkat SMP/MTs sebanyak 174.000 dan di tingkat SMA/SMK/MA tidak kurang dari 178.600 orang. Yang lebih menyedihkan lagi, anak yang tidak mampu bersekolah karena lagi-lagi alasan mahalnya biaya pendidikan adalah sebesar 4,2 juta orang. Konon, dari 2 juta orang lulusan SMA setiap tahunnya, hanya sekitar 500 ribu orang yang mampu lanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
Orang miskin meneriakkan teriakan merdeka, sementara itu baru-baru ini PBB menyajikan catatan kelam tentang tragedi kemanusiaan, di Indonesia jumlah penduduk miskin relative yang berpenghasilan kurang dari US$ 2 per hari menurut standar Bank Dunia, jumlahnya mencapai 60 %. Disebutkan pula, bahwa sekitar 20-30 % dari kelompok ini terkungkung dalam kemiskinan absolute, kurang sandang, kurang pangan, kurang papan, kurang air bersih, kurang pendidikan, kurang kesehatan dan kurang alat transportasi.
Teriakan petani juga membahana memekikkan kata merdeka, padahal sebagian dari mereka hidupnya belum sejahtera. Walaupun ada banyak komoditi ekspor negeri ini yang mampu berbicara banyak di pasar internasional. Misalnya kelapa sawit, dengan nilai ekspor CPO mencapai 60 % dari total perdagangan dunia dengan negara tujuan Belanda, India, Jerman, Italia, Brazil, Spanyol dan China. Ironisnya harga minyak goreng di dalam negeri selangit. Kemudian karet, Indonesia mendominasi pasar internasional dengan angka 33 %, bersama Thailand 25 %, dan Malaysia 13 %. Negara pengimpor terbesar karet olahan dari Indonesia adalah AS, Jepang, China, Korea Selatan, Rusia, Jerman, Kanada, Singapura dan Belgia. Ironisnya, harga karet pernah terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Komoditi lain adalah cokelat yang di pasaran internasional saat ini dukuasai oleh tiga negara, yakni Pantai Gading, Ghana dan Indonesia. Sedangkan negara importir cokelat adalah AS, Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis. Ekspor cekelat pada tahun 2007 mencapai 624.241 dan pada tahun 2008 diproyeksikan total ekspor mencapai 701.269 ton. Satu lagi adalah komoditi kopi dengan volume terbesar ekspor kopi Indonesia terdiri dari kopi Arabica dan Robusta. Nilai ekspor kopi Arabica Indonesia meningkat 20 % per tahun. Importir utama kopi dunia adalah Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Jepang dan Italia. Peringkat pertama produsen kopi dunia masih diduduki oleh Brazil dengan volume ekspor mencapai 1,2 ton per tahun. Tapi, kesejahteraan di negeri ini masih jauh panggang dari api. Apa yang salah, atau, adakah yang ngurus bangsa ini? Jawabannya adalah: Merdeka(***)
Langganan:
Postingan (Atom)