28 Oktober 2010

M i m p i

“Memiliki impian tapi tanpa usaha untuk mewujudkannya, diibaratkan mempunyai sayap tapi tidak memiliki kaki”.(Joseph Joubert)

JANGAN pernah takut untuk bermimpi tentang sesuatu hal, dan berusahalah untuk mewujudkannya. Karena mimpi tak kan dapat dihindari. Mulai dari mimpi di malam hari, hingga mimpi di siang bolong. Impian adalah kekuatan dahsyat. Banyak nama orang besar yang tercatat harum dalam sejarah dunia, juga karena mimpi-mimpinya.
Misalnya, pada jaman dahulu kala, manusia bisa terbang hanyalah impian dan mitos belaka. Mitologi yang terkenal adalah Mitos Icarus, seorang manusia yang bisa terbang menembus angkasa, tapi dia terjatuh dengan tragis karena sayap-sayapnya meleleh karena terserempet matahari. Tetapi setelah Wright bersaudara berhasil menciptakan pesawat terbang, mitos Icarus pun pupus. Wright bersaudara telah berjasa besar bagi kehidupan manusia, karena berhasil menerbangkan manusia.
Dahulu kala, manusia hanya bisa bermimpi bisa terbang ke bulan. Juga hanya sebuah mitos belaka. Mimpi bisa terbang ke angkasa, awalnya hanyalah impian indah yang dilukiskan dalam novel klasik karya Jules Verne. Tetapi, saat Neil Amstrong berhasil menjejakkan kaki di bulan pada tanggal 20 Juli 1969, maka impian Jules Verne bukan lagi sebuah mitos, namun sudah menjadi kenyataan.
Kemudian, benda-benda teknologi yang ada sekarang ini, dulunya juga hanyalah sebuah mimpi. Seperti helicopter, tank, kapal selam dan sebagainya, ternyata sudah ada di dalam sketsa yang digambar oleh Leonardo da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519). Impian-impian dan mitos itu pun menjadi kenyataan.
Nah, kalau ditanya apa yang sedang saya impikan saat ini? Saya akan menjawab sedang memimpikan negaraku Indonesia menjadi bangsa yang tak punya pejabat bermental bobrok yang suka korupsi, gemar main perempuan, hobi ngumbar janji palsu, rakyat makmur sejahtera, cukup sandang, pangan dan papan, harga-harga kebutuhan pokok terjangkau, pendidikan dan kesehatan murah, tak ada anarkisme, tak ada lagi tawuran antara kelompok golongan, antara pendukung partai politik, antara supporter olahraga, antara pendukung Pilkada/Pilpres/Pileg/Pilkades, dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Pertanyaannya, apakah mimpi Anda?(fb:Anto Winarno)

Hari Sumpah Serapah

Setiap hari rakyat kecil mengikrarkan Sumpah Serapah tentang sulitnya hidup di negeri aneh ini.
Tak heran,laknat Tuhan terus menghujani tiada henti.
Gunung marah muntahkan bencana pedih.
Laut geram mengirim tsunami.
Air menangis melukis banjir.
Angkasa murka,langit membelah hujan deras tiada tara,kilat menyambar tebar ancaman.
Tanah jengkel,menggeliat,berguncang longsor dendangkan lagu-lagu perih.

(Kalbar, 28 Oktober 2010)

30 September 2010

Tahayul

“Metafisika adalah alasan yang tidak tepat untuk sesuatu yang kita percayai dengan naluri”.(Francis Herbert Bradley)

SIAPA bilang, negara maju tidak mempercayai tahayul? Kenyataannya, banyak negara maju, seperti Amerika Serika contohnya, juga mempercayai tahayul. Tahayul bukan hanya didominasi oleh negara yang peradabannya masih tradisional dan semi tradisional.
Percaya atau tidak, menurut dunia pertahayulan, angka “13” dianggap sebagai angka sial. Sehingga tak sedikit jumlah hotel yang meniadakan kamar bernomor 13. Termasuk di kapal pesiar mewah ataupun kapal selam, ternyata juga tidak ditemukan kamar berangka 13.
“Beda dengan angka 50, didunia lotre, nomor buntut alias togel. Angka ini oleh para penjudi togel sering dianggap sebagai angkanya Bandar,” kata teman saya yang nama dan alamatnya sangat dirahasiakan.
Konon, sebuah rumah sakit bernama So Methodist Hospital Caloformia USA, terpaksa harus memasang nomor-nomor telpon baru. Hal itu dipicu oleh kepercayaan warga keturunan China di negara bagian itu yang menganggap angka 8 sebagai angka keberuntungan, dan nomor 4 sebagai angka sial atau angka kematian. Nomor telpon rumah sakit ini awalnya banyak berisikan angka 4, kini sudah diganti dengan banyak mengandung angka 8.
Dalam beberapa dialek China, kata kematian (death, game over, die, finish, tamat, modar, mampus,) bunyinya mirip dengan angka 4. Sehingga banyak orang China yang mempercayai angka 4 sebagai sebuah angka yang mengandung aura keburukan.(fb:Anto Winarno)

A b o r s i

“Di segala hal dalam kehidupan ini, kita harus melihat pada akhirnya”.(Jean de la Fontaine)

AKSI jahat menggugurkan bayi-bayi manusia tak berdosa akibat dari perbuatan terlarang dua insan tak bertanggung jawab, masih terus berlangsung. Tak terhitung orok jabang bayi yang membusuk di tempat sampah, dikubur , dan entah berapa lagi yang dibuang ke sungai, danau, laut, dibenamkan ke rawa-rawa dan dilempar ke jurang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah mencatat, bahwa setiap tahunnya telah terjadi sekitar 75 juta kasus kehamilan yang tidak diinginkan akibat free sex alias sek bebas. Dari angka itu, sebanyak 40 juta di antaranya diakhiri dengan aborsi. Sekitar 20 juta aborsi dilakukan dengan cara tak aman dalam arti menggunakan alat ala kadarnya dan ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Sisanya aborsi dilakukan dengan baik setelah melewati pertimbangan-pertimbangan medis. Padahal, aborsi yang dilakukan dengan cara tidak aman dapat menyebabkan kerusakan pada kelamin, system reproduksi bisa kacau, infeksi, pendarahan dan leher rahim robek serius.
Di Asia Tenggara, WHO (World Health Organization) memperkirakan 4,2 juta orang melakukan aborsi setiap tahunnya. Sekitar 75 ribu sampai dengan 1,5 juta terjadi di Indonesia. Aborsi dilatarbelakangi oleh rasa takut, dan malu. Hanya karena memburu kesenangan diri, manusia rela mencampakkan martabatnya.
Konon, menunggu saat-saat aborsi adalah situasi yang paling menegangkan, menakutkan dan membutuhkan seseorang yang mampu memberikan sugesti dan jaminan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Sindroma kematian selalu membayangi sebelum dilakukan aborsi, bahkan bertahun-tahun hingga seumur hidup setelah aborsi. Rasanya sangat sakit dan menakutkan.(fb:Anto Winarno)

01 September 2010

Pongah Wakil Rakyat

“Di dalam negara yang memiliki pemerintahan baik, kemiskinan adalah hal yang memalukan. Di dalam negara yang memiliki pemerintahan buruk, kekayaan adalah hal yang memalukan”.(Confusius)

Tahukah Anda soal rencana pembangunan komplek perkantoran untuk wakil rakyat yang (katanya) terhormat anggota DPR-RI di pusat? Jika Anda adalah orang miskin seperti saya, bersiaplah tergores rasa keadilannya.
Bayangkan, untuk membangun gedung berlantai 36 itu, pemerintah harus menyisihkan anggaran sebesar Rp 1,6 triliun. Keterlaluan besarnya. Artinya kalau dihitung rata-rata, harga 1 ruangan untuk 1 orang anggota DPR adalah Rp 2,8 miliar, luasnya 120 meter persegi. Masih lebih besar jika dibandingkan luas lima rumah sederhana sehat (RSS) bersubsidi tipe 21 meter persegi. Karenanya, saya sarankan kepada Anda, jadilah wakil rakyat jika ingin kaya dan makmur, boleh gaji besar, boleh jarang ngantor, boleh tidur saat rapat/sidang, dan serba boleh yang lainnya.
Desain kantornya berbentuk unik menyerupai gerbang raksasa, satu lantai rencananya akan diperuntukkan khusus untuk ruang rekreasi dan fasilitas pelengkapnya. Dari total anggaran Rp 1,6 triliun itu, sebesar Rp 1,1 triliun di antaranya digunakan untuk mendanai pembangunan fisik yang akan dimulai Oktober 2010, selama tiga tahun (multiyear).
Konon, anggaran sebesar itu sebenarnya cukup untuk membiayai bantuan iuran jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) bagi lebih dari 22 juta warga miskin dalam setahun di negara aneh ini. Tahun 2010, pemerintah mengalokasikan dana bantuan iuran Jamkesmas sebesar Rp 6.000 per bulan atau Rp 72.000 per tahun untuk satu warga miskin. Bandingkan dengan Rp 1,6 triliun untuk Kantor DPR. Muncul sebuah pertanyaan besar, masihkah Anda ingin ikut coblos pada Pemilu mendatang? Lebih baik, sekarang kita memperbanyak doa. Supaya laknat Tuhan yang akan melanda negeri menyedihkan ini berikutnya, hanya membinasakan orang-orang terkutuk, dan membusuk di neraka jahanam lapis tujuh. Tidak mengorbankan orang-orang teraniaya tak berdosa. Astagfirullah.(facebook:Anto Winarno)

Upin & Upin

“Jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi baik adalah dengan membuatnya berbahagia”.(Oscar Wilde)

SIAPA yang tidak kenal dengan tokoh kembar berkepala botak, Upin dan Ipin yang banyak digandrungi anak Indonesia? Hampir semua orang suka nonton film kartun animasi produksi negara tetangga Malaysia ini.
Tahukah Anda? Pembuat Upin dan Ipin ini adalah tiga orang mahasiswa Universitas Multimedia Malaysia sebagai tugas akhir mereka. Yakni M. Nizam Abdul Rozak, M. Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaidi yang saat itu masih berusia 30-an tahun. Seorang milyuner Malaysia bernama H. Burhanudin M. Radzi dan isterinya, Ainon Ariff ternyata kepincut. Milyuner ini adalah Direktur Les’ Copaque, tempat film animasi Upin dan Ipin diproduksi.
Dalam perjalanannya, Upin dan Ipin sukses menembus Disney Chanell yang biasa didominasi program negara barat. Walaupun sebelumnya pernah ada film karton Malaysia yang juga telah menembus Disney, judulnya Bola Kampung, tapi tidak sedahsyat Upin dan Ipin. Malaysia patut bangga, ada produknya yang tampil di saluran anak Hollywood ini. Bermula ketika salah satu manajer Disney Chanel membeli DVD Upin dan Ipin di Singapura, selanjutnya film animasi ini pun menghiasi Disney Chanel.
Tokoh Upin dan Upin ini diambil dari film animasi berjudul, “Pengembaraan Bermula”, juga karya ketiga mahasiswa itu.Dalam film itu ada tokoh anak kecil botak sebagai penunjuk jalan bagi tokoh utama saat mencari rumah kakeknya. Tokoh ini ternyata digemari penonton, dan selanjutnya dibuat kembar dan latar belakang kampung.
Ainon Ariff meminta supaya dalam tokoh yang kemudian diberi nama Upin da Ipin ini diberi cirri khas yang mudah diingat. Maka munculnya kalimat, “Betul, Betul, Betul” dan memperkuat karakter Ipin yang gemar makan ayam goreng.
Pembuatan film animasi Upin dan Ipin ini sebenarnya dikejar dead line dan memet karena dikejar target. Karenanya kedua tokoh ini tidak lengkap, karena pembuatnya tidak sempat menciptakan figure ayah dan ibu untuk keduanya. Jadilah Upin dan Ipin anak yatim piatu yang hidup dengan kakak perempuanya yang galak dan neneknya yang lemah lembut, namun bersahaja. “Kecelakaan” ini yang justru menjadi daya tarik, karena dalam kisah Upin dan Ipin tidak banyak petuah dan nasihat.
Di Indonesia melalui Stasiun TPI yang pertama menyiarkannya, penggemarnya sangat banyak, termasuk saya. Untuk memanjakan penggemar di Indonesia, lalu dimunculkan tokoh Susanti anak Indonesia yang mengikuti orang tuanya bekerja di Malaysia dalam Film Upin dan Ipin.(facebook:Anto Winarno)



Dikepung Infotinment

“Anda adalah orang yang tidak menyukai gosip, terutama saat Anda sendiri sedang digosipkan”.(Will Roger)

TERLEPAS dari perdebatan apakah sajian infotaiment itu haram, menyesatkan atau bukan dalam kelompok karya jurnalistik, yang jelas kita saat ini tengah dikepung oleh infotainment. Mengapa?
Karena di seluruh stasiun televis di Indonesia, kecuali TVRI, menyajikan program infotainment yang ternyata memang sangat disukai oleh kaum ibu-ibu dan remaja cewek. Ratingnya tinggi. Tetangga dekat, tetangga agak jauh dan tetangga paling jauh dari rumah saya, adalah penikmat acara infotaiment, hingga harus rebutan remote control. Termasuk isteri saya, tentunya.
Terdapat ada 49 program infotaiment yang disajikan oleh 11 stasiun televise di Indonesia, yang kebanyakan isinya menyodorkan gossip selebritis selama 13 jam sehari. Kita dijejali gosip-gosip yang terkadang tak tahu juntrungannya. Soal artis jalan bareng seorang pria, artis putus cinta, artis kawin dengan berondong, artis kawin – cerai, artis berantem, artis menghina wartawan, artis merusak kamera jurnalis, artis mencaci maki kuli tinta, artis klenger karena narkoba, artis ditangkap polisi, artis rebutan pacar, artis merebut suami orang, artis merebut isteri orang, artis penghancur keluarga orang lain, artis selingkuh, artis yang jadi cewek simpananpejabat atau pengusaha, artis murahan yang bisa diboking, video mesum artis, foto syur artis, artis-artis seksi yang tiba-tiba pakai kerudung di bulan Ramadhan untuk dapatkan job, artis pulang pagi, artis dugem, artis teler, artis tak kawin-kawin, artis yang betah menjanda, artis bunting tanpa suami, artis yang bangga samen leven atau kumpul kebo, artis lesbi, artis homo, artis gigolo, artis kena HIV/Aids, dan gosip-gosip lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Saya tidak tahu, apa yang menjadi pertimbangan kertika pada tahun 2006 lalu, Nahdatul Ulama (NU) pernah mengeluarkan fatwa haram bagi infotainment ini. Pertimbangan NU mungkin karena sajian infotainment ini sifatnya ghibah, atau hanya membicarakan keburukan orang lain. Yang jelas, saat ini kita tengah dikepung infotaiment.(facebook:Anto Winarno)

07 Agustus 2010

Facebook


“Kebebasan adalah hak untuk melakukan apa saja, sepanjang diizinkan oleh undang-undang”.(Charles Baron de Montesquieu)

TERLEPAS dari perdebatan yang hanya mengabis-habiskan energi soal halal dan haramnya Facebook, ternyata Facebook ini bisa menjerat buronan polisi. Begini ceritanya…
Carmel Corbo dan Gordon Poyser warga Canbera Australia meminjam uang sebesar $A 150 kepada MKM Capital untuk membeli rumah. Saat jatuh tempo, pasangan ini tak mampu membayar, dan memilih untuk kabur. Menurut prosedur hukum di negara itu, jiak tersangka tak hadir dalam persidangan, pengadilan akan menerbitkan surat gugatan. Surat ini harus disampaikan penggugat kepada tersangka. Biasanya bisa dikirim via jasa pos atau kurir. Tapi karena pasangan ini tak diketahui dimana rimbanya, maka penggugat alami kesulitan mengirim dukumen ini. Akhirnya, pengacara MKM Capital mengumumkan pencarian keduanya di koran Canbera Times. Tapi keduanya tak berhasil diketemukan, seperti layaknya raib ditelan bumi. Padahal, sebenarnya keduanya tak benar-benar ngumpet. Dalam ketidakjelasan alamatnya, ternyata keduanya masih aktif di Facebook. Pengacara MKM Capital, berhasil memantaunya melalui daftar teman dan aktivitas keduanya di situs jaringan social ini. Lembaga pembiayaan ini pun memohon kepada Mahkamah Agung Australia untuk menetapkan Facebook sebagai media yang sah untuk menyampaikan dokumen gugatan. Desember 2008, MA Australia mengabulkan permohonan itu, dan Australia menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Facebook sebagai media legal di pengadilan.
Kisah lainnya, Facebook juga berurusan dengan hukum di Toronto, Canada. Bermula ketika Stephanie Rengel, 14 tahun, dibunuh oleh dua rekannya yang berusia 15 tahun dan 17 tahun di malam tahun baru 2009. Undang-Undang Kriminal Remaja (The Youth Criminal Justice Act) negara itu melarang menyiarkan nama korban atau pelaku yang masih di bawah umur, alias masih kurang dari 18 tahun. Kecuali jika orang tua korban mengizinkan demi keperluan pelacakan. Maka ketika pembunuhnya tertangkap, kepolisian Toronto menggelar konfrensi pers dan meminta media tak menyebutkan namanya. Mereka yang melanggar beresiko dikirim ke penjara. Tak dicantumkan di media massa, informasi itu justru muncul panjang lebar di Facebook. Teman-teman Stephanie membuat groups, kelompok virtual di Facebook, untuk mengenang almarhumah. Bukan hanya nama, foto Stephanie dan pembunuhnya malah dipajang besar-besar. Corey Hafezi, pengelola groups itu tak menyadari telah melanggar larangan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Kriminbal Remaja. Alain Charette, juru bicara Departemen Hukum, menyatakan larangan publikasi di media itu juga berlaku untuk internet, termasuk Facebook. Kelompok maya ini pun dibreidel demi hukum, walaupun informasi yang ditayangkan sudah terlanjur menyebar luas.
Selanjutnya, Edward Richardson berang bukan kepalang terhadap isterinya, Sarah, yang mengubah statusnya di situs Facebook dari married menjadi single. Warga Staffordshire Inggris itu menelpon isterinya, tapi tak dijawab. Pria berusia 41 tahun itu kemudian menyambangi rumah mertuanya dan menikam isterinya hingga tewas mengenaskan.
Facebook memang tak bisa dianggap main-main. Setelah lima tahun berkiprah, kekuatan Facebook menyebarkan informasinya mulai dirasakan “mengancam” berbagai pihak. Pemerintah Maroko berhasil mencokok Fouad Mourtada, seorang insinyur berusia 26 tahun yang “iseng-iseng” membuat akun Pangeran Moulay Rachid, adik Raja Mohammed VI. Mourtada ditangkap pada Maret 2008 dengan tuduhan kejahatan pemalsuan identitas. Pemerintah Maroko menyatakan satu-satunya sumber informasi keluarga kerajaan adalah Maghreb Arabe Presse, kantor berita resmi negara itu, bukan situas web. Kemudian Pemerintah Iran dan Suriah misalnya, sampai harus memblokir situs ini. Iran yang juga menututp akses YouTube dan MySpace, khawatir Facebook menjadi saran penggalangan kekuatan oposisi. Sedangkan Suriah tak ingin situs ini jadi sarana pengkritik pemerintahan, termasuk khawatir pengaruh Yahudi Israel menyusup masuk lewat Facebook.(***)

Artis “Ganti Baju”


“Jika Anda ingin tahu siapakah sebenarnya dia, maka angkatlah dia sebagai penguasa”. (Pepatah Yugoslavia)

TAK lama lagi, wajah parlemen kita di pusat, bakal lebih berwarna. Karena sejumlah artis termasuk pelawak yang terpilih dalam pemilihan umum legislative 2009 lalu, bakal segera “ganti baju”. Disebut berganti baju, karena mereka sebelumnya adalah insane itertaiment yang tugasnya menghibur rakyat. Kini mereka akan bertugas membahas sejumlah peraturan dan perundang-undangan untuk Negara Indonesia tercinta ini.
Jika pada tahun 2004 lalu hanya ada 5 orang dari sekitar 25 caleg kalangan artis, maka pada tahun ini jumlahnya bertambah menjadi 15 orang dari 70-an caleg artis. Sebanyak 15 orang artis yang dipastikan melenggang ke Senayan itu jika dihitung presentasenya mencapai sekitar 2,6 % dari 560 kursi yang tersedia di DPR.
Artis yang berganti baju itu adalah pelawak Eko “Patrio” Purnomo dan Primus Yustisio yang diusung oleh Partai Amanant Nasional (PAN). Sementara itu caleg artis dari Partai Demokrat (PD) yang lolos ke Senayan berjumlah tujuh orang. Mereka adalah Vena Malinda, Tere Pardede, Adjie Massaid dan isterinya Angelina Sondakh, Inggrid Kansil, Nurul Qomar, dan Ruhut Sitompul. Caleg artis yang diusung Partai Golkar yang juga melenggang ke Senayan sebanyak tiga orang, yakni Nurul Arifin, Tantowi Yahya, dan Teti Kadi. Selanjutnya, PDI Perjuangan hanya mampu mengusung dua orang caleg artisnya ke Senayan, yaitu Rieke Dyah Pitaloka dan pelawak Dedi “Miing Bagito” Gumelar. Dari Partai Gerindra hanya ada satu orang, yaitu Rachel Maryam.
Secara kualitas, apakah mereka bakal mampu menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat? Jawabannya, ada pada masa lima tahun ke depan untuk membuktikannya. Jika kontribusi mereka sangat kecil bagi rakyat, lebih baik di pemilu legislative mendatang tak perlu memilih caleg artis. Yang perlu diingat, mereka melenggang ke Senayan karena bukan sekedar mewakili partainya pengusungnya.(**)

Orang Kaya Baik Hati

“Menjadi orang miskin adalah masalah. Tetapi menjadi orang kaya, tidak selalu menjadi jalan keluarnya”.(Ir Anton L Wartawan)

TIDAK sedikit orang kaya yang baik hati, namun banyak pula orang kaya yang jahat hati yang tidak peduli dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya.
Era filantropi (orang-orang kaya dermawan), dimulai pada era Andrew Carnegie si Raja Baja Dunia, setelah dia menulis buku berjudul “The Gospel of Wealth” yang berisi ajakan bagi orang-orang kaya untuk berbagi keberuntungan di sisa hidupnya. Dia sendiri menyumbangkan seluruh kekayaannya pada tahun 1889 sebesar US$ 350 juta. Kini senilai US$ 3 Milyar, yang digunakan untuk membangun sebuah perpustakaan di seluruh Amerika Serikat.
Apa yang dilakukan oleh Carnegie, ternyata membawa inspirasi bagi orang kaya yang lain. Terbukti pada tahun 1907 bankir kenamaan, Russel Sage, wafat dan jandanya, Olivia, mendirikan yayasan besar dan modern pertama di Amerika untuk mendanai proyek perbaikan sosial di negara itu. Tahun 1913, orang kaya lain bernama John D. Rockfeller mendirikan Yayasan Rockfeller dan menghibahkan dana sebesar US$ 540 juta di sepanjang hidupnya. Hebatnya lagi, anaknya yang bernama John D. Rockfeller Jr juga menyumbang dana dalam jumlah sama.
Pada tahun 1947, ketika Raja Mobil Henry Ford wafat dan menghibahkan sebagian kekayaanya ke Yayasan Ford miliknya, dan pada tahun 2005 Ford juga menyumbang lagi sebesar US$ 830 juta. Tahun 1997, Ted Turner pendiri dan pemilik CNN (Cable News Network) pernah menyumbang dana sebesar US$ 1 juta ke PBB yang akhirnya mampu menggugah filantropis baru di AS jadi penderma. Bahkan pada tahun 1999, Bill Gates (bos microsoft) dan Isterinya Melinda Gates menghibahkan sebagian kekayaannya sebesar US$ 16,5 Milyar untuk membangun sebuah organisasi baru filantopi yang kini telah menjadi yayasan terbesar di AS. Sumbangan pertama Gates adalah duit sebesar US$ 750 juta untuk mendanai pembuatan vaksin bagi anak miskin. Yang terbaru Juni tahun 2006, Warren Buffet (bos jaringan tv kabel), siap melepas sebagian kekayaannya sebesar US$ 36 juta untuk yayasan keluarga dengan catatan setelah dirinya wafat. Tentunya, masih ada juga filantopis lain yang rela menyisihkan kekayaannya untuk membantu orang lain. Andaikan saja orang-orang kaya di negeri ini memiliki jiwa social yang tinggi seperti mereka, tentunya akan banyak orang miskin di Indonesia bakal terbantu.(***)